Penerapan Ukiran

Ukiran pada umumnya diterapkan pada bangunan seperti mesjid, balai adat, dan rumah gadang sebagai pemempatan utamanya. Selain pada bangunan, ukiran juga diterapkan pada benda/ peralatan sehari-hari yang terbuat dari berbagai bahan dasar seperti kayu, buah labu yang telah dikeringkan dan lain-lain.

Penerapan ukiran pada suatu benda tidaklah sama dengan penerapan ukiran pada rumah gadang. Ukiran rumah gadang pada umumnya jenis ukiran bidang besar dengan teknik timbul, sedangkan ukiran untuk benda/ peralatan sehari-hari pada umumnya motif bidang kecil dengan teknik ukir datar sesuai dengan benda dan bahannya, sehingga menambah keindahan benda tersebut.

Motif ukiran yang diterapkan pada suatu benda pada umumnya tidak diberi warna/ cat, kalaupun ada hanya berupa cat pengilat saja seperti pernis sehingga bahan dasarnya masih terlihat jelas. Benda atau peralatan sehari-hari yang juga dipakai sebagai media penempatan ukiran tradisional Minangkabau adalah benda atau peralatan yang berbahan dasar kayu, bambu, tempurung dan sebagainya.

Bidang besar dan bidang kecil pada dinding rumah gadang



Penempatan ukiran pada dinding rumah gadang tergantung pada konstruksi bangunannya, ada motif untuk bidang besar dan ada juga untuk bidang kecil.

Berdasarkan bidang ukiran Minangkabau terbagi 3 jenis motif yaitu:
1. Motif pengisi bidang besar disebut juga motif dalam seperti motif kaluak paku, kuciang tidua, lapiah jarami, jalo, jarek.

2. Motif pengisi bidang kecil disebut juga motif luar seperti itiak pulang patang, cacak kuku, ombak-ombak, tantadu, saik galamai.

3. Motif bidang besar yang lepas dan bebas fungsi disebut juga bintang, penempatannya bebas dan lepas dari ketentuan adat.


Penempatan ukiran berdasarkan posisi dinding rumah gadang di bawah atap yang disebut pereang, pada bagian ini dipasang motif yang erat kaitannya dengan dasar pandangan adat yaitu motif saluak laka, kaluak paku, dan itiak pulang patang, motif ini diturunkan ke jendela.

Dibawah pereang (bagian tengah dinding rumah) terdapat papan banyak tempat terpasang motif ukir si kambang manih dan deretan jendela.

Di bawah papan banyak terdapat papan sakapiang yang seolah-olah sebagai ikat pinggang dari rumah gadang, dan sesuai fungsinya disini biasanya ditempatkan motif lapiah jarami dan motif rajo tigo selo.

Dinding paling bawah yaitu papan sakapiang disebut bidang salangko /galuang raban, motif ukir yang ditempatkan disini mestilah yang berhubungan dengan kepenghuluan yaitu motif ukir lumuik anyuik, jalo taserak,jarek takambang, dan tangguak lamah.
Dinding luar rumah gadang
Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain ketentuan-ketentuan bagian dinding tersebut barulah ditempatkan ukiran jenis ketiga yaitu motif bidang besar yang lepas dan bebas fungsi atau disebut juga bintang.


No comments:

Post a Comment